Search

September 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
 << <   > >>
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      

Last comments

Who's Online?

  • Guest Users: 1

Syndicate this blog

powered by
b2evolution

 

 

Selamat datang di Rumah Belajar Psikologi, yang khusus menampilkan ARTIKEL. Di sini Anda dapat membaca artikel-artikel yang ditulis untuk menjadi jembatan antara pengetahuan psikologi dengan pengalaman. Anda juga diundang untuk menampilkan tulisan dan usulan kategori, dengan mengirimkan e-mail ke kami, atau register terlebih dahulu.

Selamat berbagi dan belajar.

JADI, SIAPA YANG TIDAK HORMAT?

Pada suatu malam Castra (4 thn) dan ayahnya menjemput saya yang harus kerja lembur. Ia datang sambil memamerkan mainan barunya, sebuah boomerang dari plastik. Saat itu selain saya ada dua orang teman saya lainnya, sebut saja Tomi dan Luki. Teman saya Luki menyandang cacat kaki dan harus menggunakan tongkat.

[More:]

Tiba-tiba boomerang Castra membentur permukaan keras dan salah satu komponen pentingnya hilang sehingga sulit diterbangkan lagi. Jadilah kami semua memasang mata untuk mencari komponen tersebut di lapangan parkir yang sudah gelap dan sepi tersebut. Untunglah, teman saya Luki yang berhasil menemukannya. Castra menerima komponen tersebut dari om Lukinya sambil memandang dengan penuh makna. Setelahnya kami berpisah dan pulang.

Segera setelah kami masuk mobil, komentar pertama Castra adalah: “ Ayah, om itu kakinya pincang tapi kok matanya tajam ya..?” Kami sangat terkejut mendengar ucapan ini dan saling memandang. Mudah diduga, reaksi pertama kami adalah menanggapi kata-katanya sebagai sebuah ejekan terhadap orang cacat. Saya tanyakan apa maksudnya mengatakan hal itu. Dengan serius Castra memperjelas maksudnya, yaitu : “betapa hebatnya om Luki itu jika dibandingkan ketiga orang besar lainnya yang kakinya normal, karena dia satu-satunya yang berhasil menemukan yang dicari’”. Jelaslah, komentar itu bernada kagum dan sama sekali bukan bermaksud tidak hormat..

Percakapan itu sangat berarti bagi saya, menunjukkan betapa kuatnya nilai kesopanan sosial mempengaruhi kita dan dengan hampir tanpa disadari mempengaruhi penilaian kita pada orang lain. Pada kasus di atas nilai kesopanan ini ’mengajarkan’ kita untuk tidak membicarakan hal jelek tentang orang lain. Membuka kejelekan orang lain adalah ’tidak sopan’, ’tidak hormat’. Kecacatan fisik memiliki atribusi yang masuk dalam kategori ’jelek’ atau ’kurang sempurna’ sehingga memenuhi syarat untuk ditutupi.

Nilai kesopanan dengan segala atributnya inilah yang kami pikir dilanggar oleh Castra. Kami menyangka Castra bermaksud menghina semata-mata karena ia menyatakan apa yang dilihatnya. Padahal maksud sebenarnya justru kebalikannya, ia menunjuk pada prestasi orang tersebut, bukan kelemahannya. Jika saya berkaca pada sepotong percakapan di atas, maka atribusi yang mengaitkan kecacatan dengan kelemahan dan karenanya tidak boleh diejek hanya ada di pikiran saya. Itu sebabnya saya semula mengira Castra sedang mengejek. Castra sendiri berpikir sebaliknya. Jadi, siapa yang sebenarnya tidak hormat?



Cipete, 10 Oktober 2005, tengah malam.

Karya ini pernah dimuat di buletin Taman Bermain Musikal Gita Niti.

358 Words . hana.panggabean . 07-11-07 . 08:16:27 . Permalink . 625 views  4 feedbacks

Comments, Pingbacks:

Comment from: iyus#iyus [Member] Email
iya ya, diam-diam sebenarnya di pikiran kita biasanya hanya dipenuhi kelemahan orang aj. dalam hal ini Castra emang lebih adil.
PermalinkPermalink 05-01-08 @ 23:39
Comment from: das [Visitor]
ungkapan 'lebih' jujur dari seorang "anak", dan "kedewasaan" membuat presepsi menciptakan nilai-nilai, sebagai misal nada kagum dan nada menghina, kenapa ya setiap manusia selalu mudah menilai??
PermalinkPermalink 17-04-08 @ 19:59
Comment from: lala [Visitor] Email
kalo bpleh aku simpulkan inilah yang namanya persepsi.tiap orang memiliki berbagai sudut pandang dalam menangkap sesuatu dan mempersepsikannya. kita tidak bisa mengendalikan pikiran seseorang untuk mempersespsi sesuai dengan haraapan kita karena pikiran itu berjalan lebih cepat dari komputer.
oleh karena itulah kita perlu berdiskusi dan mencaari informasi diler dari diri kita agar terjadi persamaan persepsi dan terbentuk penilaian yang lebih valid
PermalinkPermalink 20-08-08 @ 07:22
Comment from: air jordan [Visitor] Email · http://www.4uaj.com
http://www.4uaj.com/ air jordan
PermalinkPermalink 27-05-10 @ 04:18

Leave a comment:

Your email address will not be displayed on this site.
Your URL will be displayed.

Allowed XHTML tags: <p, ul, ol, li, dl, dt, dd, address, blockquote, ins, del, span, bdo, br, em, strong, dfn, code, samp, kdb, var, cite, abbr, acronym, q, sub, sup, tt, i, b, big, small>
(Line breaks become <br />)
(Set cookies for name, email and url)
(Allow users to contact you through a message form (your email will NOT be displayed.))

Previous post: Archetype Pekerja SosialNext post: Over You