JADI, SIAPA YANG TIDAK HORMAT?
Pada suatu malam Castra (4 thn) dan ayahnya menjemput saya yang harus kerja lembur. Ia datang sambil memamerkan mainan barunya, sebuah boomerang dari plastik. Saat itu selain saya ada dua orang teman saya lainnya, sebut saja Tomi dan Luki. Teman saya Luki menyandang cacat kaki dan harus menggunakan tongkat.
Tiba-tiba boomerang Castra membentur permukaan keras dan salah satu komponen pentingnya hilang sehingga sulit diterbangkan lagi. Jadilah kami semua memasang mata untuk mencari komponen tersebut di lapangan parkir yang sudah gelap dan sepi tersebut. Untunglah, teman saya Luki yang berhasil menemukannya. Castra menerima komponen tersebut dari om Lukinya sambil memandang dengan penuh makna. Setelahnya kami berpisah dan pulang.
Segera setelah kami masuk mobil, komentar pertama Castra adalah: “ Ayah, om itu kakinya pincang tapi kok matanya tajam ya..?” Kami sangat terkejut mendengar ucapan ini dan saling memandang. Mudah diduga, reaksi pertama kami adalah menanggapi kata-katanya sebagai sebuah ejekan terhadap orang cacat. Saya tanyakan apa maksudnya mengatakan hal itu. Dengan serius Castra memperjelas maksudnya, yaitu : “betapa hebatnya om Luki itu jika dibandingkan ketiga orang besar lainnya yang kakinya normal, karena dia satu-satunya yang berhasil menemukan yang dicari’”. Jelaslah, komentar itu bernada kagum dan sama sekali bukan bermaksud tidak hormat..
Percakapan itu sangat berarti bagi saya, menunjukkan betapa kuatnya nilai kesopanan sosial mempengaruhi kita dan dengan hampir tanpa disadari mempengaruhi penilaian kita pada orang lain. Pada kasus di atas nilai kesopanan ini ’mengajarkan’ kita untuk tidak membicarakan hal jelek tentang orang lain. Membuka kejelekan orang lain adalah ’tidak sopan’, ’tidak hormat’. Kecacatan fisik memiliki atribusi yang masuk dalam kategori ’jelek’ atau ’kurang sempurna’ sehingga memenuhi syarat untuk ditutupi.
Nilai kesopanan dengan segala atributnya inilah yang kami pikir dilanggar oleh Castra. Kami menyangka Castra bermaksud menghina semata-mata karena ia menyatakan apa yang dilihatnya. Padahal maksud sebenarnya justru kebalikannya, ia menunjuk pada prestasi orang tersebut, bukan kelemahannya. Jika saya berkaca pada sepotong percakapan di atas, maka atribusi yang mengaitkan kecacatan dengan kelemahan dan karenanya tidak boleh diejek hanya ada di pikiran saya. Itu sebabnya saya semula mengira Castra sedang mengejek. Castra sendiri berpikir sebaliknya. Jadi, siapa yang sebenarnya tidak hormat?
Cipete, 10 Oktober 2005, tengah malam.
Karya ini pernah dimuat di buletin Taman Bermain Musikal Gita Niti.
Comments, Pingbacks:
oleh karena itulah kita perlu berdiskusi dan mencaari informasi diler dari diri kita agar terjadi persamaan persepsi dan terbentuk penilaian yang lebih valid
