Konseling Pegawai vs Pembinaan Disiplin Pegawai
Pegawai di lingkungan Pemerintahan Daerah maupun Pemerintahan Pusat tidak sedikit yang terlibat dalam kasus, baik itu kasus pelanggaran disiplin maupun kasus perceraian.
Pegawai, tepatnya Pegawai Negeri Sipil terikat dalam berbagai macam peraturan perundang-undangan bidang kepegawaian yang mengatur perilaku pegawai
Ada PP 30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai,
PNS yang akan mengajukan izin cuti juga diatur dalam PP 24 tahun 1976,
bahkan PNS akan bercerai atau menikah lagi pun diatur dalam PP 10 tahun 1980 jo. PP 45 tahun 1983 tentang Izin perkawinan dan Perceraian.
Kasus pelanggaran yang muncul pun sangat kompleks, mulai dari yang sekedar tidak masuk kerja tanpa keterangan yang sah selama lebih dari 5 (lima) hari sampai berbulan-bulan 
kasus perselingkuhan sampai kawin siri (jangan salah lho, utk PNS kawin siri tmsk bentuk pelanggaran disiplin dan sanksinya termasuk sanksi tingkat berat),
kasus korupsi, penyelahgunaan wewenang, keuangan, dan lain-lain.
Penyebabnya pun tentu bermacam-macam, bahkan ada yang seperti lingkaran setan. misal masalah ekonomi menimbulkan masalah dalam rumah tangga sehingga mengganggu etos kerja yang bersangkutan di kantor, akibatnya pun yang bersangkutan sering tidak hadir di kantor tanpa lasan yang sah, maka sesuai aturan yang bersangkutan mendapatkan sanksi, hal tersebut semakin memperburuk kondisi rumahtangganya, sehingga berakhir dengan perceraian…. ![]()
Situasi kerja yang kondusif tentu saja sangat mendukung upaya untuk meminimalis perilaku pegawai yang tidak diinginkan (baca : pelanggaran disiplin).
Tentunya menciptakan situasi kerja yang kondusif adalah tugas setiap individu pada dinas terkait, bukan hanya karyawan tapi juga dari pimpinan. Justru peranan pimpinan sangat penting. Karena pada dasarnya pembinaan bagi pegawai bukan hanya karena pegawai itu “bermasalah", tapi memberikan reward kepada pegawai yang berprestasi juga bagian dari pembinaan disiplin pegawai. Termasuk menyediakan fasilitas konseling bagi pegawai itu juga sebagai langkah positif untuk pembinaan disiplin.
Semoga yang ada bukan hanya laporan pegawai bermasalah tapi juga pegawai-pegawi yang berprestasi…. ![]()
Kisah tentang hidup
Alkisah ada seorang pengrajin yang membuat pensil sebagai salah satu karyanya. Namun sebelum pensil itu diizinkan untuk keluar menjelajahi banyak tempat, sang pengrajin memberikan nasihat-nasihat kepadanya.
1. You will be able to do many great things, but only if you allow yourself to be held in Someone’s hands.
2. You will experience a painful sharpening from time to time but this is required if you are to become a better pencil.
3. You have the ability to correct any mistakes you might make.
4. The most important part of you will always be what’s inside.
5. No matter what the condition, you must continue to write. You must always leave a clear, legible mark no matter how difficult the condition.
Setelah paham apa yang dikatakan oleh sang pengrajin, ia pun diizinkan untuk keluar menjelajahi dunia
Budaya Kambing Hitam
Budaya Kambing Hitam
Beberapa hari lalu diberitakan melalui berita pagi di sebuah televisi yang memberitakan telah terjadi kecelakaan yang menewaskan seorang ibu dan anaknya. Mereka tewas karena tertabrak kereta api yang sedang melintas. Satu hal yang cukup menggelikan kebanyakan warga yang menempati ‘rumah-rumah’ disekitar rel justru menyalahkan kondisi lingkungan yang tidak ada pagar pembatas antara rel dan ‘rumah warga’. Mereka menutup mata terhadap kemungkinan kecerobohan dan ketidakwaspadaan sang ibu tadi. Menggelikan karena justru keberadaan warga di sekitar rel lah yang sebenarnya tidak pada tempatnya, karena sekitar kiri kanan rel sebenarnya merupakan daerah terlarang untuk hunian.
Dari fakta diatas jelas sekali terlihat kecenderungan masyarakat kita untuk menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang terjadi atas diri mereka. Ya ternyata budaya ‘kambing hitam’ masih melekat erat pada masyarakat kita. Bukti keengganan untuk berkaca terhadap kesalahan diri.
Bagaimana dengan situasi di tempat kerja ..? Saya cukup yakin bahwa di banyak situasi kerja budaya inipun masih sering muncul. Jika di tempat kerja kita masih ada pernyataan-pernyataan seperti : “ Ah, teman-teman saya saja nih yang pada sirik dan suka ngadu ke bos, sehingga saya masih sering dimarahin si bos” atau “ Atasan saya orangnya sulit, sukar diajak bicara, makanya prestasi kerja saya ya begini-begini aja tidak bisa berkembang apalagi selama dia yang menjadi atasan saya” atau “ Perusahaan tempat saya kerja pelit tidak bisa menghargai karyawannya, makanya gaji saya ya segini-segini aja, nggak pernah cukup buat kebutuhan keluarga “
Jika kata-kata seperti di atas masih atau sering terdengar di tempat kerja kita atau bahkan kita sendiri yang seperti itu maka waspadalah ( seperti kata bang napi ), artinya ‘kambing hitam’ masih jadi piaraan favorit
Memang paling mudah menimpakan kesalahan pada orang lain dan bertindak seakan – akan kita tidak punya andil dalam kesalahan yang terjadi. Umumnya orang berbuat seperti ini untuk menghindari sanksi, cemooh atau vonis atas kesalahan yang telah diperbuat entah sengaja maupun tidak atau bisa juga karena faktor gengsi, malu karena telah berbuat salah . Sikap seperti ini justru akan berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, karena orang lain justru tidak akan respek disamping itu sikap mencari kambing hitam ini akan menutup ruang bagi diri kita untuk melakukan introspeksi terhadap diri kita. Kenapa ..? Ya karena waktu kita akan habis untuk mencari ‘kambing – kambing hitam‘ mana yang bisa ‘disembelih’ untuk dijadikan kurban. Akan lebih produktif jika waktunya kita gunakan untuk mencari cermin dimana kita bisa berkaca dan melihat dimana letak kesalahan maupun kekurangan yang kita miliki.
Faktor penyebab dari semua hal yang terjadi sebenarnya dapat kita golongkan menjadi dua yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor ekternal tentunya adalah hal-hal diluar diri dan kendali kita, seperti : kebijakan pemerintah, kebijakan perusahaan, instruksi atasan, kondisi mental lingkungan, dll. Faktor internal adalah semua hal yang bersumber dari diri kita sendiri dan ada dalam kendali kita.
Faktor eksternal ada diluar kendali kita sehingga sangat sulit kalau tidak mau dibilang tidak mungkin bagi kita untuk merubahnya menjadi selaras dengan keinginan kita. Sebaliknya faktor internal ada dalam kuasa kita untuk mengendalikan, merubah sesuai yang kita inginkan. Orang – orang yang cenderung melihat kesalahan orang / pihak lain tergolong orang yang hanya mau melihat faktor eksternal sebagai penyebab. Padahal kalau kita mau sedikit merenung, jika kita hanya berkonsentrasi terhadap faktor eksternal akan sangat minim hasil yang bisa kita dapatkan. Adalah hal yang sangat sulit untuk merubah hal-hal diluar kendali kita, contoh kasus apakah mudah merubah keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, walaupun banyak elemen masyarakat demo di sana – sini pemerintah tetap pada pendiriannya. Mungkin hanya stress atau rasa frustasi yang akan kita dapatkan jika kita selalu berharap atau menginginkan hal-hal eksternal ini berubah. Lalu apa yang dapat kita lakukan..? Ya, sebaiknya konsentrasilah terhadap faktor – faktor internal dalam diri kita, karena kita punya kuasa untuk merubahnya menjadi selaras dengan kondisi dan alam sekitar kita. Jika kita tidak dapat membuat pemerintah merubah keputusannya menaikkan harga BBM, ya berarti kitalah yang harus fleksibel melakukan berbagai perubahan semisal memperketat dan mengefisiensikan pos-pos pengeluaran .
Dalam konteks dunia kerja atau di kehidupan sehari –hari misalnya, kita harus berani berhenti menyalahkan atasan, perusahaan, pemerintah, lingkungan, dll atas hal – hal yang terjadi terhadap diri kita. Pasti ada hal – hal dalam diri kita yang menjadi penyebab itu semua. Fokuslah pada hal-hal internal diri kita, bersikap fleksibel dan mau melakukan perubahan – perubahan yang memang diperlukan agar kembali selaras dengan lingkungan di mana kita berada.
“ Jangan pernah berharap orang lain berubah, tapi ubahlah diri kita menjadi selaras dengan orang lain “
Michael Widi Susanto
JADI, SIAPA YANG TIDAK HORMAT?
Pada suatu malam Castra (4 thn) dan ayahnya menjemput saya yang harus kerja lembur. Ia datang sambil memamerkan mainan barunya, sebuah boomerang dari plastik. Saat itu selain saya ada dua orang teman saya lainnya, sebut saja Tomi dan Luki. Teman saya Luki menyandang cacat kaki dan harus menggunakan tongkat.
